Secara global, fenomena ini tidaklah nyata, apalagi di Asia Tenggara. Masih sangat banyak penduduk yang pindah ke kota untuk bekerja ataupun belajar. Tapi di lingkungan pertemananku, banyak yang melakukannya. Mungkin kami punya banyak privilege sehingga bisa memilih hidup yang lebih tenang di desa. Beberapa sudah pindah, beberapa lagi sudah membeli lahan perkebunan, dan sebagian lagi masih merencanakan. Jujur, aku merasa iri (termotivasikan) terhadap orang-orang yang telah melakukannya.
Aku tahu ini bias algoritma media sosial, tapi belakangan banyak sekali konten yang menunjukkan kehidupan orang-orang yang meninggalkan kota untuk hidup di desa. Terlihat sangat menyenangkan. Banyak juga konten yang memperlihatkan pertanian modern yang dilakukan oleh orang-orang seumuranku. Moderen dalam arti penggunaan data, metode, dan alat yang lebih modern bukan teknologi futuristik di film sains fiksi. Aku tahu yang ditunjukkan di media sosial hanya yang baik-baiknya saja.
Tidak semudah itu, Ferguso!
Kakakku dan keluarganya tetap memilih tinggal di kota, meskipun setiap weekend mereka ke desa dan mengurus kebunnya. Tempat kerja suaminya lebih dekat dengan kota. Dan ini lagi-lagi karena inkompetensi pemerintah; sekolah negeri terutama di desa kualitasnya sangat buruk! Mengirim anaknya ke sekolah di kota adalah solusi yang lebih masuk akal. Mereka berencana pindah ke desa setelah anaknya selesai sekolah.
Kesimpulan sementara: Deurbanisasi hanyalah bias konfirmasi lingkungan sekitarku dan juga algoritma big tech.