Sejak tahun 2025, mungkin akhir 2024, aku selalu berangan-angan untuk kembali hidup ke desa tempat aku dibesarkan. Aku yakin itu pasti berat. Bayang-bayang masa kecil yang kelam masih menghantui. Tapi itu bukan masalah yang besar, karena aku akan tinggal di desa seberang sungai. Dimana penduduknya lebih sedikit dan suasana lebih chill.
Sebenarnya aku sudah membeli sebidang tanah di sana. Dekat dengan pemandangan gunung yang indah. Sayang sekali aku tidak mengabadikannya dalam foto. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari kampung bapak. Dekat dengan sumber air, dekat dengan jalan utama, dan hal yang tak kalah penting, tanahnya tidak berwarna merah seperti kampung bapak. Sangat besar potensi desa ini ku rasa. Sangat rindu aku tinggal di tempat seperti ini. Mungkin dengan pengetahuan yang ku miliki sekarang, aku tidak akan jatuh miskin seperti kebanyakan penduduknya. Tapi siapa yang bisa membaca masa depan?
Beberapa pekerjaan yang mungkin bisa ku lakukan dari desa, menjadi petani merupakan pilihan yang paling mudah mengingat sebagian besar penduduk desa adalah petani. Meskipun daerah ini bukan daerah yang produktif. Lebih tepatnya, sebagian besar masyarakatnya merupakan buruh tani. Mereka bekerja di perkebunan/persawahan petani kampung seberang yang lebih maju. Entah apa yang salah dengan kampung ini. Masyarakatnya sangat tidak terampil bertani. Sebagian lagi bekerja mencari rotan, kayu, dan juga getah damar ke hutan. Pekerjaan yang sangat berisiko, tak sedikit dari mereka yang meninggal tertimpa kayu. Ada juga yang tersesat berhari-hari di tengah hutan. Tentu saja pekerjaan ini tidak akan menjadi pilihanku.
Dengan pengalaman kerjaku di bidang digital, rasanya sangat lebih masuk akal jika aku meneruskan pekerjaan ini. Hanya saja ku merasa dampak yang ku berikan ke masyarakat hampir tidak ada. Aku hanya kerja untuk sebuah perusahaan dan semua kontribusi yang ku lakukan hanya akan berdampak untuk perusahaan tersebut. Dan mana ada perusahaan digital di sekitar kampungku, atau bahkan di pulauku. Kemungkinan aku harus bekerja untuk perusahaan di kota besar seperti Jakarta atau Bali. Semakin kecil pula dampak yang kuberikan.
Menjadi peternak ataupun petani di desa juga bukan tanpa risiko. Aku butuh modal yang tidak kecil, butuh juga tenaga yang banyak untuk mengolah tanah ataupun mengurus ternak. Belum lagi jika gagal panen, ternak diserang penyakit ini akan menghajar ku secara finansial. Mungkin aku tidak akan sanggup melewatinya. Belum lagi permasalahan tengkulak di desa. Satu-satunya cara untuk ku mendapatkan harga jual yang layak di pasar sebagai petani/peternak adalah aku tau juga cara menjualnya ke pasar secara langsung. Membuka toko di kota mungkin bisa menjadi solusi?
Lihatlah kotaku, Luwuk. Sudah sepuluh tahun ku pergi merantau rasanya tidak banyak yang berubah. Ekonomi masih atau mungkin lebih lesu daripada hari pertama ku tinggalkan. Atau mungkin aku yang biased setelah bertahun tahun melihat Denpasar dan Jakarta. Terakhir kali ku datang, teluk Lalong yang dulunya ramai kini sangat sepi pengunjung. Entah karena tempat populer sudah berpindah ke tempat lain? pasar juga tidak seramai dulu. Penjual takjil terasa sepi pengunjung. Tapi, aku bertemu banyak wisatawan asing di bandara. Yang katanya mereka pergi ke Banggai Kepulauan.
Perusahaan tambang juga sebenarnya banyak di sini. Banyak dari mereka mempekerjakan banyak pekerja asing. Keluargaku dan beberapa teman kecilku bekerja di perusahaan-perusahaan tambang juga. Dan ekonomi nya jauh lebih baik dari penduduk desa yang tidak bekerja di tambang. Ada banyak juga pabrik baru yang dibuka, perusahaan perikanan baru. Mungkin aku juga seharusnya berkecimpung di momentum industrialisai kotaku. Aku harap momentum nya tidak segera pudar sampai semua masyarakatnya sejahtera. Ya, sepertinya aku harus ikut mendorong industrialisai di daerah ini. Apa yang bisa ku lakukan? untuk sekarang, aku juga belum tahu pasti apa yang bisa ku kontribusikan.
Dalam kegalauan yang berkepanjangan ini, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan kuliahku yang sebelumnya tersendat masalah keluarga dan finansial. Aku sudah merasa cukup aman dengan keadaan finansial ku belakangan ini. Dengan harapan, selesai kuliah aku harus melanjutkan S2 di Eropa. Tujuanku adalah mendapatkan ilmu dan insight untuk mendukung momentum industrialisasi ini. Mungkin aku harus mencari banyak pengalaman di bidang manufaktur ya? entahlah, aku juga tidak tau apa yang harus ku lakuakan setelahnya. Hal yang pasti, aku harus menyelesaikan kuliahku kali ini. Aku yakin akan ada jalan yang terbuka setelahnya. Semoga sesuai dengan yang ku perkirakan.
Setelah semua "training" selesai, Apa yang harus ku lakukan? harus mulai dari mana? Aku juga sebenarnya tidak tahu pasti apa yang akan ku lakukan setelahnya. Yang pasti untuk saat ini, aku sangat tertarik dalam proses industrialisasi pertanian, modernisasi pertanian kita. Entah apa maksudnya itu. Penggunaan mesin untuk otomatisasi pekerjaan? atau pengolahan hasil panen dan memperpendek rantai dari petani ke pasar? Aku rasa pilihan kedua yang lebih masuk akal untuk dijalankan. Lebih sedikit modal yang diperlukan, dan tidak diperlukan teknologi tinggi. Tapi tentu saja modalnya tidak akan sesedikit itu. Pengolahan hasil pertanian untuk menambahkan nilai jual juga mungkin masuk akal. Tapi tetap saja kita membutuhkan pasar setelahnya.
Masalah balik kampung aja bikin pusing seperti ini ya. Harusnya tak usah ku pikirkan. Balik kampung kerja di tempat yang nyaman, hidup nyaman. Selesai. Tapi apakah aku ingin hidup yang seperti itu?