Ubud

Wed, 29 April 2026 | 05:10

Di bayanganku, Ubud itu destinasi wisata yang tenang dan penuh budaya. Banyak yang bilang juga, Ubud merupakan pusat pariwisata budaya di Bali. Tapi setelah berkunjung ke sana, yang terlihat sangat berbeda dengan budaya dengan budaya populer.

Jalan utamanya sangatlah berisik, banyak polusi, macet juga. Hal yang sangat ironis terjadi di sini, Orang memarkir motornya tepat di depan simbol dilarang parkir, nice. Di Jalan Gautama, yang seharusnya menjadi percontohan jalan ramah pejalan kaki pun juga sama, Orang parkir tepat di depan tanda dilarang parkir. Mobil juga dengan bebas berlalu-lalang meskipun di depan pintu masuk jalan sudah tertera mobil dilarang masuk.

Hal klise yang menjadi masalah di negara ini, hukum dibuat tanpa penegakan yang benar. Simbol-simbol lalu lintas hanya dipasang lalu dibiarkan. Satpam-satpam gendut yang menjaga pasar juga hanya sibuk main HP. membiarkan para pelanggar. Polisi? entah apa kabar kepolisian di negara ini.

Sebenarnya sentral parkir sudah disiapkan di lapangan bola, yang kini dibagi dua, setengahnya diubah menjadi lahan parkir. Dan juga ada parkir yang luas di basement pasar seni Ubud. Tapi, tetap saja masyarakat baik hati dan cerdas kita melanggar aturan.

Agak ironis sebenarnya kalau masyarakat kita mengeluhkan pemerintahan yang buruk dan tidak kompeten, mereka lupa bahwa pejabat asalnya dari masyarakat juga.

Para pelanggar, namun hanya sebagian kecil yang berada di jalan utama, motornya di tempeli sticker "PELANGGAR PARKIR DI UBUD" 🤯. Jujur, sepertinya mereka (para pelanggar) tidak peduli dan hanya menganggap ini sebagai hal yang lucu saja. Kenapa berhenti mengempiskan ban motor? setahu saya sebelumnya, kendaraan para pelanggar akan dikempiskan. Seperti yang tertulis pada spanduk di jalan Gautama.

Trotoar sangatlah mengenasakan. Saya kasihan melihat turis yang mendorong trolly anaknya, yang harus susah payah mendorong di trotoar busuk ini. Apa kabar yang menggunakan kursi roda? jalanan dipenuhi kendaraan, dan trotoar busuk tak layak pakai. Masak sih pemerintah Gianyar tidak punya dana untuk perbaikan trotoar?

Di luar pusat kota Ubud juga tidak kalah buruknya. Jalanan di sepanjang desa Sayan juga berlubang super parah. Masak semuanya harus autopilot, di mana peran pemerintah?

Pedagang souvenir nya juga seperti nggak ngotak. Teman saya menanyakan harga sepasang anting. Harga yang ditawarkan adalah 1,3 Juta. lalu dia turunkan menjadi 800 ribu, lalu 500 ribu 🗿. Ternyata di toko lain cuma 350 ribu, tanpa drama, tanpa bid gila di awal. I mean kalau mau bisnis kenapa tidak yang lurus-lurus aja? kan akan lebih baik jika turis mendapatkan harga yang fair dan bisnis pasti akan lebih lancar.

Hal yang paling saya suka disini adalah penjaga tokonya sangatlah ramah ke semua orang, termasuk saya yang lokal 🫶. Tapi sih ini seharusnya menjadi standar dimana-mana.